Want your own Fotopage?

|
|
sugih's FotoPage
By: sugih hartanto
[Recommend this Fotopage] |
[Share this Fotopage]
| [Track this Fotopage]
|
|
[Archive]
|
|
|
|
| Monday, 28-Feb-2005 00:00 |
Email | Share | | Bookmark |
|
Another Journey
|
 |
|
Me, si kotak2 biru, Aziz en Bowo from Republika
|
|
 |
|
Finally, Bandara Sultan Iskandar Muda, NAD
|
|
 |
|
Relawan harus kuat. Senam pagi ala Relawan PKS
|
|
 |
|
Sisa-sisa surga kami
|
|
 |
|
Kemana pergi sanak, saudara dan handai taulan ?
|
|
 |
|
"Orang-orang kuat" ini pun kehilangan markasnya.
|
|
 |
|
Masjid Lampuuk, Lhoknga, Clinton-Bush Sr jual tampang di sini
|
|
 |
|
Tuhan, jangan marahi kami lagi...
|
|
 |
|
Air, di bawah komando Allah, jadi tentara berkekuatan dahsyat
|
| | View all 22 photos... |
|
Long time no see, eh ?
Biasa. Sibuk ! So, urusan update fotopages jadi nomor ke-19. Padahal, too much story to tell. Actually, tiap hari aku sudah bercerita banyak kepada banyak orang. Via my newspaper, off course.
Cerita di bawah ini, adalah bagian kecil dari yang kusampaikan lewat koranku. Cerita tentang perjalanan ke puing-puing tsunami di Serambi Mekkah, Nanggroe Aceh Darussalam. It's a sad story. Hope u all like it.
***
"KALAU kita ke Aceh bareng ?" Pesan singkat (SMS) itu saya terima di layar HP, Jumat (14/1/2005) malam. Pengirimnya, Ir Abdul Aziz, pengurus Departemen Ekonomi DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Aziz memang dekat dengan wartawan. Maklum, dulu ia pernah menjabat humas DPW Partai Keadilan (belum pakai Sejahtera) DIY. Pesan singkat, juga dijawab singkat: "Mauuu !"
Saya memang ingin sekali ke Aceh. Julukan serambi Mekkah begitu menggoda. Setiap muslim pasti ingin pergi ke Mekkah, menunaikan haji. Tetapi, haji mungkin masih terlalu jauh dalam angan saya. Serambinya dulu, saja. Keinginan itu makin menggelora ketika Aceh porak poranda akibat gempa dan tsunami.
Apa yang saya bisa sumbangsihkan bagi saudara-saudara tercinta di sana? Uang, saya tak punya banyak untuk dibagikan. Pakaian pantas pakai, mungkin ada yang bisa dikeluarkan dari lemari pakaian di rumah. Tetapi, melihat tayangan di TV dan berita di koran, tampaknya sumbangan pakaian layak pakai sudah sangat melimpah. Apakah saya harus jadi relawan untuk mengevakuasi jenazah ? Tetapi, sanggupkah saya menghadapi ribuan bahkan ratusan ribu mayat yang bergelimpangan di seluruh penjuru Aceh ?
Sekian lama menjadi wartawan kriminal, cukup sering juga saya menghadapi mayat korban pembunuhan. Juga, proses otopsi mayat yang mengerikan. Tetapi, ini cuma satu dua mayat. Di Aceh, ada ratusan ribu mayat dengan kondisi yang jauh lebih mengerikan. Dari hari ke hari, makin membusuk pula.
Saya wartawan. Saya putuskan saya tetap jadi wartawan di sana. Bukan relawan pengevakuasi jenazah. Bukan relawan pembagi logistik bagi pengungsi. Saya akan tetap jadi wartawan. Melaporkan langsung dari puing-puing bencana. Saya berharap, laporan saya dari sana mampu menggugah pembaca untuk tak kehilangan kepedulian pada penderitaan saudara sebangsa yang tengah terluka.
Dan memang, PKS lewat Aziz mengundang saya untuk jadi wartawan. PKS mendaftarkan saya sebagai relawan jurnalis.
Kontak lewat telepon dengan Aziz berlanjut. Semula, diputuskan kami berangkat hari Selasa (18/1). Lalu diundur menjadi Jumat (21/1). Saat itu, jadwal penerbangan ke Aceh memang masih banyak mengalami penundaan.
Hari Rabu (19/1), Aziz menelepon, "Besok kita berangkat," katanya.
Jadi juga kami berangkat. Dari DPW PKS DIY, ada 6 relawan yang berangkat plus seorang wartawan dari media lain. Ini adalah pengiriman kelima dari PKS DIY. Dua orang di antaranya dokter. Tiga perawat dan seorang mahasiswa psikologi semester akhir. Aziz sendiri berangkat belakangan karena harus bertemu boss koranku untuk bertukar pikiran tentang penyaluran dana bantuan bagi korban bencana tsunami.
Kamis siang, kami sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Di sana, kami baru dapat kabar dari DPP PKS bahwa tim relawan ke Aceh baru berangkat besok, Jumat (21/1). Agak kecewa, tetapi ada hikmahnya. Sebab, akhirnya saya bisa melihat kesibukan PKS langsung di kantor pusatnya, dalam menerima dan menyalurkan bantuan bagi korban tsunami.
Di kantor DPP PKS di kawasan Mampang, Jakarta Selatan itu, terlihat tumpukan barang bantuan. Bukan lantaran tidak disalurkan. Apalagi memang terlihat barang bantuan itu nyaris tak henti diangkut dengan truk. Tetapi, bantuan memang terus mengalir lewat DPP PKS. Inilah salah satu hikmah bencana tsunami. Rasa kebersamaan yang hampir hilang, seolah dipaksa untuk hadir lagi dan kian mengental dari hari ke hari.
***
RASANYA tidak sabar untuk segera berangkat. Tetapi, menurut jadwal, pesawat baru Jumat (21/1) sore take off dari Bandara Soekarno-Hatta. PKS mencarter pesawat milik maskapai Celebes Air. Full seat. Seluruh kursi terisi tak kurang 106 relawan.
"Seminggu 2-3 kali kami berangkatkan relawan ke Aceh, sekaligus menjemput mereka yang sudah lama di sana," tutur Eddy Kuncoro, fungsionaris DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Akhirnya, pesawat yang lumayan nyaman itu terbang menembus langit. Transit hampir satu jam di Bandara Polonia, Medan, pukul 19.30. Dari atas, tanah rencong betul-betul terlihat gelap. Berbeda dengan pemandangan kota Medan yang betul-betul gemerlap dengan cahaya lampu.
Ketika akhirnya mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, semua berucap syukur. Suasana bandara terlihat suram. Tak seperti lazimnya bandara di mana-mana.
Saya sempat khawatir ketika kaki mulai menjejak bumi Serambi Mekkah. Teringat cerita-cerita tentang konflik bersenjata di sini. Tetapi, kekhawatiran itu tak berlangsung lama. Mobil jemputan sudah datang. Sebuah truk langsung dipadati para relawan.
Saya bersama Ir Abdul Aziz dan seorang rekan wartawan dari media lain tidak ikut truk itu. Tetapi, naik ambulans milik Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU). Di dalam, sudah ada relawan-relawan putri.
Hanya sekitar 6 km dari bandara, sampailah kami ke Posko utama PKS di Lambaro. Malam sudah lumayan larut. Tetapi, ternyata Aceh tak semengerikan seperti cerita-cerita orang. Di sebelah meunasah (musala) tempat para relawan PKS menginap, masih ada warung kopi yang buka.
"Kopinya enak banget. Besok kalau mau pulang, saya mau pesan buat oleh-oleh," kata seorang relawan dari Jakarta yang sudah 2 minggu di Aceh.
Tertarik promosinya, saya pun mendatangi warung kopi itu. Memang betul. Kopi yang pertama saya hirup di Serambi Mekkah ini memang betul-betul nikmat. Malah, Aziz yang tak begitu suka kopi pun mengakuinya.
***
Sabtu (22/1) pagi, saya terbangun dengan kaget. Jam 5 lebih seperempat jam. Wah, salat subuh kesiangan nih. Tetapi, kekagetan itu langsung diikuti rasa syukur. Ternyata, langit Aceh masih gelap. Rekan relawan yang sudah 2 minggu di Aceh pun memberitahu.
"Di sini subuh jam setengah enam," katanya.
Usai salat subuh ada ustadz yang memberi kultum (kuliah tujuh menit). Setelah itu, komandan para relawan berteriak memerintah mereka untuk olahraga, senam dan lari pagi. Saya pilih beres-beres peralatan. Warung kopi sebelah meunasah juga sudah buka. Peralatan sudah siap, kopi yang lezat itu pun menemani sarapan mie Aceh pagi itu.
Sambil sarapan dan ngopi itu, saya telepon rumah. Istri saya kaget begitu tahu saya sedang di warung kopi. "Lho, sudah ada yang jualan to?" katanya.
Lambaro tempat kami menginap memang tak terkena gelombang tsunami. Wajar jika perekonomian lebih dulu menggeliat di sini. Apalagi, di dekat posko juga ada sebuah pasar tradisional yang lumayan besar.
Sarapan segera saya habiskan. Seorang pengurus DPW PKS Nanggroe Aceh Darussalam menyanggupi mengantar kami ke puing-puing bencana. Jantung saya berdegup. Tak sabar untuk segera melihat kebesaran kuasa Tuhan di bumi serambi Mekkah ini.
***
RENCANA berubah lagi. Tak ada pengurus DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang bisa mengantar kami ke lokasi bencana.
Sabtu (22/1) itu, mereka masih sibuk dengan urusan penyembelihan hewan kurban. Bahkan, Ketua DPW PKS NAD, Raihan Iskandar Lc pun turun tangan langsung menyembelih beberapa ekor sapi. Sama sigapnya adalah Ustadz Yusuf Supendi, anggota DPR RI dari PKS. Padahal pria berambut putih ini sudah tergolong sepuh.
Ir Abdul Aziz yang mendampingi saya dan seorang rekan wartawan dari media lain memutuskan untuk menyewa labi-labi. Ini adalah julukan buat angkot di Aceh. Rata-rata memakai mobil Suzuki Carry dengan bak belakangnya sebagai ruang penumpang yang diberi atap. Kebanyakan labi-labi dirawat dengan baik. Mulus dan banyak asesorisnya.
Tetapi, sebelum kami dapat carteran labi-labi, Khairul, pengurus DPW PKS NAD mendatangi kami. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan kunci mobil.
"Maaf, semuanya sedang sibuk. Bisa nyopir sendiri kan ?" katanya.
Lumayan. Tak terbayang bakal mengemudikan Kijang kapsul di Aceh yang sedang porak poranda. Semula, yang ada di benak saya adalah repotnya urusan transportasi dan komunikasi. Supaya tidak tersesat, seorang relawan yang sudah 2 minggu di Aceh kami ajak untuk jadi penunjuk jalan.
Tujuan pertama adalah pusat kota. Tepatnya, kawasan seputar Masjid Raya Baiturrahman. Dan memang, dari bagian itulah saya mulai melihat puing-puing bencana yang mengerikan. Saya teringat tayangan video amatir di TV saat gelombang tsunami mulai melanda di seputar masjid.
Bagian muka masjid sudah terlihat bersih. Tetapi di bagian barat yang merupakan kawasan pasar, puing-puing masih menggunung. Bau busuk lumpur begitu menyengat. Boleh jadi, ada juga campuran bau mayat yang membusuk. Saya yakin, di bawah tumpukan puing-puing itupun masih ada mayat yang belum terevakuasi. Apalagi, upaya evakuasi memang difokuskan pada mayat-mayat yang terlihat jelas.
Kaki saya melangkah ke teras masjid. Masih terbayang puluhan atau ratusan mayat dibaringkan di sini sesaat sesudah tsunami melanda. Teras masjid pun masih bau cairan antiseptik.
Jantung saya berdegup keras melihat kehancuran di sekitar masjid. Tetapi, itu ternyata hanya sepersekian persen dari yang saya lihat sesudahnya di kawasan lain. Padahal, yang saya saksikan selama 6 hari di Aceh pun hanya sebagian kecil saja dari seluruh kawasan yang tertimpa bencana di tanah rencong ini. Belum lagi ditambah yang di Sumatera Utara dan negara-negara lain jauh di seberang samudera.
Sulit menggambarkannya dengan kata-kata ketika akhirnya saya melihat kehancuran yang lebih mengerikan di Kecamatan Lhoknga, sekitar 15 km dari Banda Aceh. Belasan kilometer perjalanan, di kanan kiri terlihat bekas daerah-daerah perkampungan. Jelas tempat-tempat ini sebelumnya adalah pemukiman yang padat. Tetapi, kini hanya tinggal pondasi dan bagian lantai.
Seorang lelaki terlihat tengah menjemur karpet di bekas rumahnya yang hanya tinggal bagian lantainya. Sepuluh meter darinya, seorang perempuan dan anak kecil duduk termenung memandangi hamparan puing-puing.
"Dulu, ini rumah dua tingkat," kata Asnawi, lelaki itu sambil menunjuk lantai rumahnya yang berkeramik putih. "Banyak rumah di sini yang bertingkat," tambahnya.
Di kejauhan terlihat sebuah rumah berlantai dua yang tinggal separuh. Seperti roti dipotong dengan pisau yang tajam. Di tempat yang lebih jauh lagi, di latar belakang puing-puing bangunan, terlihat bangunan berwarna putih yang masih kokoh.
Masjid. Bangunan tempat nama Tuhan disebut-sebut inilah yang sangat sering saya temui dalam kondisi relatif masih utuh di tengah kehancuran di sekelilingnya.
***
PEGALNYA kaki tidak sebanding dengan pegalnya mata dan hati memandang kerusakan yang saya saksikan selama 6 hari berada di tanah rencong. Telinga saya juga pegal mendengar keluhan para korban yang lolos dari musibah besar itu.
"Saya kehilangan anak, istri, suami, ayah, ibu, kakak, adik. Rumah dan harta saya juga habis. Yang tinggal hanya badan dan pakaian ini," itulah kalimat yang sering saya dengar di tempat-tempat pengungsian.
Ratusan bahkan ribuan mayat juga masih bergelimpangan tak terurus.
Di wilayah pesisir pantai misalnya. Apalagi, sebagian wilayah itu masih terputus dari jalan darat. Seperti yang saya saksikan di hari terakhir di Aceh, di kawasan Kecamatan Leupung. Begitu banyak mayat. Bayangkanlah aromanya yang sudah sebulan di alam terbuka. Bahkan, karena tak tahan baunya, ada warga setempat yang membakar sebagian mayat itu bersama reruntuhan bangunan.
Kawasan ini betul-betul luluh lantak. Kata Rusli, sopir labi-labi yang kami sewa, kawasan dekat pabrik Semen Andalas Indonesia ini sebelumnya adalah kawasan perkampungan yang padat. Banyak rumah mewah di sini. Itu terlihat dari sisa-sisa rumah mereka yang berpondasi kuat, tetapi kini hanya tinggal pondasi dan lantainya saja.
Bantuan berdatangan dari segenap penjuru tanah air. Bahkan juga dari luar negeri. Sekilas, sepertinya berlimpah.
"Sekarang yang senang malah pengungsi," kata seorang warga Aceh di warung kopi kepada saya.
"Kok bisa ?" sahut saya.
"Ya, sekarang mereka bisa makan enak. Dulu nggak tahu yang namanya kornet, sarden, susu kaleng. Sekarang semua tersedia," jawabnya.
Tetapi, hidup di pengungsian, betapapun segala kebutuhan tercukupi bukanlah hidup yang enak.
"Nggak enak duduk diam begini terus. Saya ingin pulang. Kalau perlu bikin tenda di bekas rumah saya," kata Asnoni, perempuan bakul pakaian yang rumahnya di Lamkruet, Lhoknga, Aceh Besar, hancur tak bersisa.
"Saya ingin kerja. Bisa stres kalau cuma diam seperti ini," timpal Maâ??ruf, pengungsi di kamp pengungsian Desa Seuneubok, Kecamatan Seulimeum.
Bantuan yang berdatangan, kebanyakan lebih cocok diberikan pada masa-masa darurat. Ketika lapar, orang perlu diberi makan. Tetapi, kini mereka tak lapar lagi. Mereka kini butuh rumah, pekerjaan, sekolah. Singkatnya, memulihkan kembali kehidupan mereka ke dalam situasi normal.
Itulah yang belum banyak diberikan para pemberi bantuan. Banyak posko-posko peduli di Aceh. Tetapi, sebagian besar hanya tinggal posko dan spanduk-spanduk â??gagahâ??.
"Mereka cuma sekali datang, kasih bantuan, lalu pasang spanduk dan pergi," kata seorang pengelola kamp pengungsi sambil menunjuk spanduk bertuliskan nama sebuah lembaga besar dengan tambahan kalimat "Peduli Aceh".
Kini, yang dibutuhkan adalah kepedulian yang berlanjut. Melihat kehancuran fisik dan psikis yang sedemikian besar, saya kira tak cukup setahun dua tahun bagi para korban untuk kembali ke kehidupan â??normalâ??. Aceh masih terus membutuhkan uluran tangan saudara-saudaranya di seluruh penjuru negeri.
Seperti tulis sebuah spanduk di tengah kota Banda Aceh, entah siapa yang membuatnya.
"Jangan tinggalkan Aceh !"
|
|
|
|
|
|
| Tuesday, 27-Jan-2004 00:00 |
Email | Share | | Bookmark |
|
My Funny Family
|
 |
|
Ihya si ganteng
|
|
 |
|
'Ilmi, tiruan kecilku
|
|
 |
|
Princess Salma
|
|
 |
|
Istriku, Madrasah anak2-ku. Lihat Salma belepotan talcum powder
|
|
 |
|
3 years old Ilmi
|
|
 |
|
Salma and Ilmi, like twin eh...
|
| | View all 15 photos... |
|
Aku menikahi Hajar, 13 November 1994 di Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia. Satu persatu hasil 'kerjasama' kami yang indah lahir ke bumi. Pertama, 5 Oktober 1995 lahir si sulung yang ganteng, Ihya Ruhuddin 'Azzam. Aku bersyukur, ia mirip Ummi-nya. Kalau Ihya mirip aku, wah kasihan dia. Abi (father, bapak, daddy)-nya kan punya face biasa-biasa saja.
Lalu, 4 November 1998, si nomor dua lahir. 'Ilmi Tsaqif Taqiy. Kata orang, dia ini yang mirip aku. Tetapi menurutku, dia ibarat diriku setelah melewati proses revisi berulang-ulang di tangan Sang Pencipta. Biar begitu, aku kadang terheran-heran melihat gaya berjalannya, gaya bicaranya dan segala tindak-tanduknya yang memang mirip aku. Aku jadi serasa bercermin ketika melihat 'Ilmi.
Ngebut. 4 Maret 2001, lahir lagi satu buah bantingan kami. Yang satu ini istimewa. Kami 'memprosesnya' lewat rangkaian riset, bongkar data literatur termasuk data yang kami ambil dari internet. Yup, data yang kami cari adalah tentang proses pembentukan jenis kelamin bayi. Alhamdulillah, Allah tak menyia-nyiakan jerih payah kami. Lahirlah Salma 'Ainayya Mumtaz. Salma artinya damai, 'Ainayya kira-kira bermakna kedua mata kami. Mumtaz= perfect. Jadi, maksudnya kira-kira, Biji Mata kami yang membawa kedamaian sempurna !
Pada diri Salma kami temukan gabungan diri kami. Cantik mirip ibunya. Energic like her Abi. Smart like her Ummi and Abi.
Ihya, 'Ilmi dan Salma bukan boneka. Ketiganya punya volume suara yang tinggi. Energinya nyaris tak pernah habis, like Energizer. Bayangkanlah betapa hebohnya rumah 63 meter persegi kami saat mereka beraktivitas !
|
|
|
|
|
|
| Tuesday, 20-Jan-2004 00:00 |
Email | Share | | Bookmark |
|
Tour of Duty to Sampit, Kalimantan Tengah
|
 |
|
First time on flight
|
|
 |
|
Spanduk Dayak di Alun2 Palangkaraya
|
|
 |
|
Ini mobil polisi yang dibakar massa 2 hari sebelumnya
|
| | View all 20 photos... |
|
Senyum sedikit di pagi 10 Maret 2001. Ngeri, ini pertama kalinya numpak montor mabur. Ngeri juga, karena bakal mengunjungi tempat orang sedang saling bantai !
Bismillah...
|
|
|
|
|
|
|
[Archive]
|
|
 |
|